Contoh PTK Seni Budaya Dan Keterampilan SD

September 4, 2011 | Author: | Posted in PTK

LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

MENINGKATKAN EKSPRESI DAN KREATIVITAS SISWA
DALAM APRESIASI KARYA KERAJINAN
PADA PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
DI KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI LEUWIMUNDING III KECAMATAN LEUWIMUNDING KABUPATEN MAJALENGKA

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Muatan seni budaya dan keterampilan sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya terdapat dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan. Dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni,” “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional.
Bidang seni rupa, musik, tari, dan keterampilan memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam pendidikan seni dan keterampilan, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.
Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan;
Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan;
Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan;
Menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal, regional, maupun global.
Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
Seni rupa, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam menghasilkan karya seni berupa lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak, dan sebagainya;
Seni musik, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal, memainkan alat musik, apresiasi karya musik;
Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan dan tanpa rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari;
Seni drama, mencakup keterampilan pementasan dengan memadukan seni musik, seni tari dan peran;
Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life skills) yang meliputi keterampilan personal, keterampilan sosial, keterampilan vokasional dan keterampilan akademik.
Di antara keempat bidang seni yang ditawarkan, minimal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan sumberdaya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran lebih dari satu bidang seni, peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya. Pada tingkat SD/MI, mata pelajaran Keterampilan ditekankan pada keterampilan vokasional, khusus kerajinan tangan.
Mengajar tidak secara otomatis menjadikan siswa belajar. Tugas guru dalam mengajar antara lain adalah membantu transfer belajar. Tujuan transfer belajar ialah menerapkan hal-hal yang telah dipelajari pada situasi baru, artinya apa yang telah dipelajari itu dibuat umum sifatnya. Melalui penugasan dan diskusi kelompok misalnya, seorang guru dapat membantu transfer belajar. Oleh karena itu fakta, prinsip, keterampilan, dan sikap yang diperlukan untuk terjadinya transfer belajar sudah dikuasai oleh siswa yang sedang belajar.
Biggie (1989) merangkum perbedaan penting antara teori belajar perilaku dengan teori belajar kognitif. Seorang guru penganut teori belajar perilaku berkeinginan mengubah perilaku siswanya, sedangkan guru yang menganut teori belajar kognitif ingin mengubah struktur kognitif (pemahaman) siswanya.
Sesungguhnya ada dua kutub dalam pendidikan saat ini, yaitu tabula rasa dan konstruktivisme. Menurut rujukan tabula rasa, siswa diibaratkan kertas putih yang dapat ditulisi apa saja oleh gurunya atau ibarat wadah kosong yang dapat diisi apa saja oleh gurunya. Dengan pendapat ini seakan-akan siswa bersifat pasif dan memiliki keterbatasan dalam belajar. Menurut rujukan konstruktivisme, setiap orang yang belajar sesungguhnya membangun pengetahuannya sendiri. Jadi siswanya dapat aktif dan terus meningkatkan diri dalam kondisi tertentu.
Struktur kognitif seseorang pada suatu saat meliputi segala sesuatu yang telah dipelajari oleh seseorang (Ausubel dalam Kalusmeier, 1994). Hasil belajar sendiri dapat dikelompokkan menjadi :
informasi verbal;
keterampilan;
konsep, prinsip, dan struktur pengetahuan;
taksonomi dan keterampilan memecahkan masalah;
strategi belajar dan strategi mengingat.
Seluruh hal itu dipelajari secara “initially”, direpresentasikan secara internal, diatur dan disimpan dalam bentuk “images”, simbol dan makna. Struktur kognitif mengalami perubahan sejak lahir dan maju berkelanjutan sebagai hasil proses belajar dan pendewasaan/kematangan. Konsep, prinsip, danstruktur pengetahuan (termasuk taksonomi dan hierarkinya), pemecahan masalah merupakan hasil belajar yang penting dalam ranah kognitif.
Berikut ini diberikan 6 keunggulan penggunaan pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran di sekolah, yaitu :
1. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya;
2. pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa;
3. pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat;
4. pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar;
5. pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka;
6. pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
Menurut pandangan konstruktivisme, keberhasilan belajar tergantung bukan hanya pada lingkungan atau kondisi belajar, tapi juga bergantung pada pengetahuan awal siswa (prior knowledge). Belajar melibatkan pembentukan makna oleh siswa tentang apa yang sedang mereka lakukan, lihat dan dengar. Pembentukan makna merupakan suatu proses aktif yang terus berlanjut. Jadi siswa memiliki tanggung jawab akhir atas proses belajar mereka sendiri, bukan tanggung jawab guru.
Implikasi dari pandangan konstruktivisme ini di sekolah adalah bhwa pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa. Pengetahuan itu harus secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. Senada dengan pernyataan ini, penelitian pendidikan  mengungkapkan bahwa proses belajar merupakan proses konstruktif yang menghendaki partisipasi aktif dari siswa, sehingga peran guru sekarang berubah dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator belajar siswa. Lebih lanjut dikemukakan bahwa pembelajaran dalam pandangan konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu :
berkaitan dengan pengetahuan awal atau prakonsepsi (prior knowledge) siswa;
mengandung kegiatan pengalaman nyata (experience);
melibatkan interaksi sosial (social interaction);
terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (sense making).
Dalam pandangan konstruktivisme, belajar adalah proses perubahan konsepsi. Oleh karena itu belajar dipandang sebagai suatu kegiatan yang rasional. Belajar hanya akan terjadi apabila seseorang mengubah atau berkeinginan mengubah pikirannya. Dalam perubahan konsepsi, siswa dipandang sebagai pemroses informasi dan pemroses pengalaman. Bukan hanya sebagai tempat penampung pengalaman dan informasi. Ini berarti, kemampuan siswa untuk belajar dan apa yang dipelajari siswa bergantung pada konsepsi yang terdapat dalam pengalaman tersebut. Gagasan yang baru tidak begitu saja ditambahkan pada gagasan yang telah ada, tetapi mereka saling berinteraksi yang kadang-kadang memerlukan perubahan.
Perubahan konsepsi ini dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
pembedaan, artinya konsep baru muncul dari konsep lebih umum yang sudah ada;
perluasan konsepsi, konsep lama yang mengalami perkembangan menjadi konsep baru;
konseptualisasi ulang (restrukturisasi), terjadi perubahan signifikan dalam bentuk dan hubungan antar konsep.

PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
Perumusan Masalah
a. Identifikasi masalah
Dari hasil evaluasi pada pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di Kelas IV Sekolah Dasar Negeri I Pabuaranwetan, Kecamatan Pabuaran Kabupaten Cirebon, yang kurang berhasil, teridentifikasi dalam permasalahan berikut :
1) Sebagian besar proses pembelajaran masih menggunakan dan menganut prinsip tabula rasa, dimana dalam pandangan ini, siswa ibarat kertas putih yang dapat ditulisi apa saja oleh gurunya, atau ibarat wadah kosong yang dapat diisi apa saja oleh gurunya.
2) Karena sebagian besar proses pembelajaran masih menggunakan dan menganut prinsip tabula rasa, maka siswa memiliki banyak keterbatasan dalam belajar dan mengembangkan diri.
3) Motivasi siswa dalam pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan sangat kurang akibat banyaknya keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki olehnya serta tidak dibangun secara konstruktif oleh guru.
4) Aktivitas siswa dalam pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan sangat kurang dan tidak terarah, sebab pembelajaran kognitif tidak berkembang dengan baik selama proses pembelajaran.
5) Pemahaman siswa dalam pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan sangat kurang, terbukti dengan nilai hasil belajar yang rendah, nilai rata-rata kelas yang jauh dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah, serta presentase jumlah siswa siswa yang sangat sedikit dalam mencapai target pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
b. Analisis perumusan masalah
1) Guru kurang memahami dan merespon minat, kekuatan, pengalaman dan keperluan siswa secara individual;
2) Guru kurang berfokus pada proses pembelajaran inkuiri dalam pemahaman dan penggunaan sains;
3) Guru memberikan motivasi belajar;
4) Guru kurang mengoptimalkan penggunaan alat peraga pembelajaran yang ada;
5) Guru kurang mengoptimalkan perancangan dan pelaksanaan metode pembelajaran yang tepat.
Berdasarkan hasil tersebut maka rumusan permasalahannya : “Bagaimana meningkatkan ekspresi dan kreativitas Siswa dalam apresiasi karya kerajinan pada pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan di kelas IV Sekolah Dasar Negeri I Pabuaranwetan, Kecamatan Pabuaran Kabupaten Cirebon”.
Pemecahan Masalah
Untuk pemecahan masalah dalam proses pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, khususnya tentang Karya Kerajinan, maka perlu adanya alternatif tindakan yaitu : “Dalam proses pembelajaran guru dianjurkan agar lebih berfokus pada konsepsi konstruktivisme, meminimalisasi konsepsi tabula rasa, mengembangkan proses inkuiri, banyak berkomunikasi dengan siswa, serta mendemonstrasikan peragaan-peragaan yang berkaitan dengan materi dengan mengoptimalkan alat-alat peraga pembelajaran yang ada disertai dengan penekanan pengalaman bermakna bagi siswa”.

Tujuan Penelitian .
Kegiatan penelitian ini mempunyai tujuan yang sangat penting yaitu :
Tujuan Umum :
Penelitian bertujuan menemukan kebenaran melalui metoda berpikir yang berdasarkan keilmuan dan mendapatkan gambaran dan deskripsi ilmiah yang berkenaan dengan proses perbaikan pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar dan disiplin siswa.
Tujuan Khusus
Untuk memudahkan siswa dalam mempelajari konsep-konsep pelajaran yang sedang dipelajari;
Untuk meningkatkan perhatian siswa dalam pelajaran.
Untuk meningkatkan motivasi belajar dalam pelajaran;
Untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pelajaran;
Untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Manfaat Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dipandang dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya adalah sebagai berikut :
Bagi Siswa
a. dapat meningkatkan kreativitas dalam belajar;
b. dapat meningkatkan proses belajar yang memberikan pengalaman bermakna bagi siswa;
c. dapat meningkatkan prestasi belajar sesuai tujuan yang diharapkan dalam target pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM);
Bagi Guru
Untuk indikator atau alat pantau keberhasilan siswa, serta pengembangan kemampuan profesional yang lebih baik;
Untuk memberikan deskripsi ilmiah tentang proses pembelajaran aktif, kreatif, menarik dan menyenangkan;
Untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman baru berkenaan dengan metode pembelajaran;
Untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan proses belajar.
Bagi lembaga sekolah
Dengan meningkatnya prestasi dalam pembelajaran dapat meningkatkan profesionalitas guru, yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan relevansi dan daya saing.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam memperbaiki cara mengajar guru untuk dapat memotivasi siswa terhadap pelajaran, serta memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif, mengoptimalkan alat peraga pembelajaran yang tersedia. Disamping itu, guru akan lebih mudah memberikan materi pelajarannya. Sedangkan bagi siswa akan lebih cepat memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, sehingga akan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.

Selanjutnya BAB II

Did you like this? Share it:

Author:

Saya Hanya Orang Biasa yang penuh dengan kehilapan dan kekurangan jika ada kritik, saran atau sesuatu yang bikin sahabat perlu di sampaikan silahkan berkomentar di kolom yang udah di sediakan atau bisa menghubungi langsung melali contack us terima kasih

This author has published 151 articles so far.

Comments (1)

  1. mas jm

    bagus pk… always keep moving

Leave a Reply