PTK IPA Kelas 5 SD : Penggunaan Metode Demonstrasi
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia merupakan negara berkembang yang sudah melaksanakan pembangunan di bidang pendidikan secara bertahap sesuai dengan tuntutan perkembangan. Sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, “… melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia …”, salah satu tujuan nasional negara kita, khususnya tujuan pembangunan pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kualitas pendidikan tidak terlepas dari kualitas pengajaran yang terjadi didalam kelas. Tugas dan tanggungjawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran terletak di pundak guru.
Nana Sudjana (1996/1997) mengemukakan tentang guru sebagai pengajar dengan 4 tugas pokok sebagai berikut :
Merencanakan program belajar mengajar
Melaksanakan dan memimpin atau mengelola proses belajar mengajar
Menilai kemajuan proses belajar mengajar
Menguasai bahan pelajaran/bidang studi
Keempat tugas guru diatas sangatlah penting dalam proses belajar mengajar, khususnya dalam mata pelajaran Sains / Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Bahasa Indonesia, sebab andaikan satu poin saja tidak dimiliki dan dilaksanakan dengan baik oleh guru, maka penyampaian pelajaran kepada anak akan sulit dilakukan. Selain itu, guru harus benar-benar menguasai metode dan teknik pengajaran, sebab walau bagaimanapun guru merupakan penentu utama dalam mencapai keberhasilan dalam suatu pengajaran.
Pendidikan di tingkat sekolah dasar merupakan pendidikan yang substansial dan fundamental, yaitu dasar atau landasan bagi pendidikan di tingkat berikutnya sekaligus sebagai bekal hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Di tingkat inilah seorang anak mulai diperkenalkan terhadap pembentukan prilaku sosial dan penanaman dasar keilmuan. Tentu saja, pendidikan di tingkat ini harus memperhatikan perkembangan anak secara serius, terpadu dan berkelanjutan.
Pendidikan memang sulit didefinisikan secara umum dan dapat diterima oleh berbagai pihak, namun dengan mengacu kepada Dictionary of Education, pendidikan merupakan upaya sadar untuk membentuk prilaku dan meningkatkan kemampuan, baik kemampuan verbal, kemampuan numerik maupun kemampuan-kemampuan sosio-kultural.
Karena prilaku, minat dan bakat masing-masing peserta didik sangat kompleks, maka upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan-pun menjadi rumit. Belum lagi jika memperhatikan faktor-faktor eksternal pendidikan, seperti fluktuasi ekonomi, pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta faktor-faktor eksternal lain yang mempengaruhi pendidikan, baik secara langsung-maupun tidak langsung, maka pendidikan merupakan suatu fenomena dan proses yang semakin kompleks.
Individu yang sedang belajar, khususnya anak-anak usia sekolah dasar, sedang mengalami perkembangan psikologi menuju taraf pendewasaan, dimana anak-anak usia ini memiliki kondisi emosional yang sangat sensitif.
Karena pendidikan itu sendiri sudah sedemikian kompleks, maka meningkatkan mutu pendidikan merupakan sesuatu yang sangat sulit. Tanpa dukungan dan tanggungjawab semua pihak, proses pendidikan formal hanyalah sebuah proses rutin, dimana anak pergi ke sekolah, mendengarkan guru, mengerjakan pekerjaan rumah, kemudian esok harinya pergi lagi ke sekolah, demikian seterusnya. Padahal, siswa adalah seorang individu yang belajar, mereka adalah seorang subjek pendidikan, bukan objek pengajaran.
Banyak sekali ditemukan kenyataan, dimana anak merasa khawatir berada di sekolah karena belum mengerjakan pekerjaan rumah, takut menghadapi seorang guru karena sudah dipandang sebagai sosok yang “galak”, bahkan pada kondisi tertentu mungkin pesimis bergaul dengan teman karena memiliki tingkat pengetahuan dan faktor-faktor lain yang kurang mendukung. Jika seorang guru sudah diposisikan sebagai sosok yang menakutkan, bagaimana mungkin siswa dapat belajar?
Sebagai pendidik dan pengajar, guru mengemban tanggungjawab besar terhadap prestasi yang harus dicapai seorang siswa. Berhasil atau tidaknya pembelajaran ditunjukkan oleh dikuasainya materi pelajaran oleh siswa. Tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran biasanya dinyatakan dengan nilai atau skor yang mencerminkan keberhasilan siswa dalam menempuh program pembelajaran di kelas.
Berdasarkan analisis terhadap evaluasi mata pelajaran Sains / Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tentang Daur Air dan mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang menyimpulkan cerita anak di kelas V SD Negeri Weragati I Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka, menunjukkan bahwa tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari kenyataan bahwa dari 21 orang siswa yang ada, hanya 11 orang siswa yang berhasil mencapai target Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), atau hanya 52,28% saja.
Melihat hasil evaluasi tersebut, maka diperlukan adanya perbaikan pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis, terlihat jelas bahwa upaya meningkatkan hasil belajar siswa untuk mata pelajaran Sains / Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Bahasa Indonesia perlu dilakukan dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan belajar.
B. Identifikasi Masalah
Selama proses pembelajaran berlangsung, siswa terlihat tidak aktif, tidak berani mengajukan pertanyaan atau mengemukakan ide-ide, pemikiran atau gagasannya. Pertanyaan yang diajukan oleh guru-pun tidak mendapatkan tanggapan dan respon yang profesional. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, penulis melakukan diskusi dengan teman sejawat untuk mengidentifikasi masalah. Dari hasil diskusi dengan teman sejawat, serta analisis dan penelitian yang dilakukan, maka penulis mengidentifikasi beberapa permasalahan yang perlu diperbaiki, yaitu :
a. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Dari proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tentang Daur Air di kelas V Sekolah Dasar (SD) Weragati I Kecamatan Palasah Kabupaten Majalengka, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yaitu sebagai berikut :
1) Jumlah siswa yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal masih sangat rendah
2) Proses pembelajaran masih didominasi oleh peran serta guru, dimana dari awal sampai akhir guru menyampaikan materi secara sepihak.
3) Peran serta siswa dalam kegiatan belajar mengajar masih kurang.
C. Analisa Masalah
Hasil identifikasi masalah diatas dianalisis untuk dapat dilaksanakan perbaikan pembelajaran. Masalah yang akan penulis atasi dalam perbaikan pembelajaran adalah merupakan tugas dan kewajiban seorang guru profesional, diantaranya :
a. Penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat, sehingga tidak dapat memberikan motivasi dan menumbuhkan minat siswa terhadap pembelajaran. Pembelajaran yang efektif adalah adanya minat, motivasi dan perhatian siswa dalam belajar.
b. William James (1890) dalam Drs. Moch Uzer Usman, mengemukakan bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa, faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
c. Seorang tokoh pendidikan dari Belgia yakni Ovide Decroly (1871-1932) dalam Drs. Moch Uzer Usman, mendasarkan sistem pendidikannya pada pusat minat yang pada umumnya dimiliki oleh setiap orang.
d. Penggunaan alat peraga yang kurang memadai/kuarang sesuai, menurut Encyclopedia of Education Research. Media pendidikan (audio, visual, aids) memiliki nilai sebagai berikut :
Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme (tahu istilah tidak tahu arti, tahu nama tidak tahu bendanya)
Memperbesar perhatian siswa
Membuat pelajaran lebih menetap / tidak mudah dilupakan
Memberikan pengalaman yang nyata
Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinue
Membantu tumbuhnya pengertian
Menarik siswa dalam belajar
Mendorong siswa untuk bertanya dan berdiskusi
D. RUMUSAN MASALAH
Apakah metode demonstrasi mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas V Sekolah Dasar?
E. TUJUAN PENELITIAN
Dalam pembelajaran di kelas muncul berbagai masalah yang sangat merisaukan dan berujung pada kegagalan, baik dalam proses maupun hasil pembelajaran, bertolak dari hal tersebut maka penulis mengadakan perbaikan pembelajaran dengan tujuan :
Memperbaiki proses pembelajaran agar dapat menjadikan pengalaman bermakna bagi siswa.
Meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran sebagai hasil pembelajaran.
Memperbaiki kinerja penulis sebagai seorang guru (pendidik).
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional pada Program S-1 PGSD.
F. MANFAAT PENELITIAN
1. Dapat mengupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa, karena siswa termotivasi untuk terlibat langsung serta ikut berpartisipasi menggunakan keterampilan berpikir, berkomunikasi (berdialog), juga bekerja atau berbuat sebagai pengalaman nyata dalam situasi yang menyenangkan. Hal ini sangat mendukung pada pencapaian tujuan pembelajaran.
2. Sebagai masukan bagi guru untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran yang dikelolanya, dengan kata lain memperbaiki kualitas kinerjanya secara profesional.
3. Bagi Kepala Sekolah dan intansi terkait sebagai masukan dalam merencanakan dan mengambil kebijakan terutama berkaitan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan.
Author: admin
Saya Hanya Orang Biasa yang penuh dengan kehilapan dan kekurangan jika ada kritik, saran atau sesuatu yang bikin sahabat perlu di sampaikan silahkan berkomentar di kolom yang udah di sediakan atau bisa menghubungi langsung melali contack us terima kasih
This author has published 151 articles so far.